KEKHAWATIRAN AKAN TERJADI BABY BOOM AKIBAT VANDEMIK COVID-19 - Harian Ekspos

Breaking News

Post Top Ad

KEKHAWATIRAN AKAN TERJADI BABY BOOM AKIBAT VANDEMIK COVID-19



Bandung, harianekspos.com -
Kekhawatiran akan terjadinya baby boom akibat pandemi covid-19 sempat muncul dari sejumlah kalangan. Meski begitu, selama pelayanan keluarga berencana (KB) tetap berlangsung, kekhawatiran tersebut tidak perlu berlebihan. Selain itu, preferensi generasi milenial terhadap kelahiran juga makin teredukasi dengan baik. Pada saat yang sama, imbauan di rumah selama pandemi mendorong lahirnya sejumlah kreativitas baru di lingkungan keluarga.

Demikian salah satu simpulan dari seminar daring Koalisi Kependudukan Indonesia (KKI) Jawa Barat bekerjasama dengan dengan Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat yang berlangsung sebelum Idulfitri 1441 H lalu. Seminar menghadirkan narasumber Ketua KKI Jawa Barat Ferry Hadiyanto, Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Jawa Barat Eva Riantini, Kepala Perwakilan BKKBN Jawa Barat Kusmana, dan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (PPKBP3A) Kota Tasikmalaya Nunung Kartini. Peserta webinar atau seminar daring berasal dari pengurus KKI Jawa Barat dan nasional, pengelola program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana (Bangga Kencana) se-Jawa Barat maupun nasional, dan bidan praktik se-Jawa Barat.

Ketua KKI Jawa Barat Ferry Hadiyanto tidak memungkiri adanya kenaikan angka kehamilan selama masa pandemi covid-19. Namun demikian, kenaikan tersebut tidak bisa digeneralisasi sebagai sebuah fenomena. Faktanya, sejumlah daerah menunjukkan penurunan kehamilan. Sementara sebagian lainnya menunjukkan pergerakan normal.rabu(27/5/2020).

“Beberapa waktu lalu sempat viral adanya lonjakan kehamilan di Tasikmalaya. Seolah-olah imbauan di rumah saja mengakibatkan lonjakan kehamilan. Ternyata setelah dicek tidak demikian. Malah, kehamilan menurun dibanding sebelumnya. Kalau kita simak berita lain juga relatif beragam. Garut misalnya, biasa-biasa saja. Tak ada lonjakan. Ciamis menurun. Random saja, tiap daerah berbeda situasinya,” ungkap Ferry.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (Unpad) ini menyebut probabilitas meningkatnya kehamilan terbilang kecil. Karena itu, Ferry memperkirakan tidak bakal terjadi ¬baby boom di Jawa Barat. Aktivitas hubungan suami-istri hanya salah satu akibat yang muncul selama pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan karantina wilayah serta kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Ada sederet dampak lain yang turut muncul, seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perceraian, dan kriminalitas. Sejumlah pemberitaan media mengonfirmasi munculnya dampak-dampak tersebut.

“Di sisi lain, stay at home melahirkan budaya baru di masyarakat. Pembatasan sosial membuat perilaku konsumen berubah. Dari awalnya bisa seenaknya ke mana saja, sekarang semua harus di rumah. Maka lahirlah stay at home economy, seperti berbelanja secara online, food delivery, home entertainment, dan lain-lain. Saat bisnis konvensional rontok, e-commerce, logistik, food delivery, remote working, streaming services, media dan telekomunikasi, online learning, cloud services, farmasi, cleaning services, dan home fitness mengalami peningkatan. Pandemi mendorong lahirnya kreativitas baru untuk tetap produktif di rumah. Ini juga penting untuk menjadi catatan di luar masalah fertilitas,” kata Ferry.

Ferry juga mengingatkan perubahan preferensi keluarga tentang kelahiran. Hal ini muncul sejalan dengan perubahan karakteristik generasi di Indonesia. Generasi milenial atau generasi Y yang lahir setelah 1980-an cenderung lebih teredukasi dengan baik. Generasi ini dianggap memiliki pemahaman yang baik tentang sumber daya manusia berkualitas dan keluarga berkualitas. Perubahan ini merupakan perkembangan karakter Generasi X yang sudah lebih dahulu sadar akan pentingnya menunda pernikahan dan kelahiran.

“Kondisi ini kontras dengan karakteristik generasi Baby Boom yang masih tradisional-konservatif. Generasi ini melihat melihat kelahiran sebagai upaya menutupi defisit fertilitas ak.
| BACA JUGA YANG LAINNYA |

Post Bottom Ad

Pages