*Mensyukuri Kemerdekaan Menurut Al-Quran* Oleh Cepi Nurzaman, S.Ag* - Harian Ekspos

Breaking News

Post Top Ad

*Mensyukuri Kemerdekaan Menurut Al-Quran* Oleh Cepi Nurzaman, S.Ag*



إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”.

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”

أما بعد

*Hadirin Rohimakumullah,*

Segala puji hanya milik Allah SWT,  Tuhan yang telah menciptakan   Langit dan Bumi beserta seluruh makhluk baik yang ada di Langit maupun yang ada di Bumi termasuk kita selaku manusia yang mempunyai nilai lebih di bandingkan makhluk-makhluk lainnya, karena  manusia di ciptakan oleh Allah  "فى احسن تقويم" dalam bentuk yang sebaik-baiknya." Oleh karena  kitu sangat wajar sekali kalau manusia bersyukur kepada Allah dengan melaksanakan semua perintah Allah SWT dan menjauhi semula larangan-Nya.

Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada Baginda Rasul nabi Muhammad SAW, para keluarganya, para Sahabatnya, para Tabiinnya dan mudah-mudahan bisa sampai kepada kita selaku umat yang selalu meniru mencontoh menapak tilasi siroh dan perjuangannya. Aamiin.

*Hadirin Rohimakumullah,*

Dalam teks pembukaan Undang-undang dasar 1945  alinea ketiga dinyatakan :

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya. 

Berarti kemerdekaan itu disamping hasil perjuangan bangsa indonesia sebagai upaya ikhtiar yang dibarengi dengan tawakal kepada Allah SWT,  juga merupakan anugrah dari Allah, kalaulah bukan karena  karunia dan rahmat Allah rasanya tidak mungkin kita bisa merdeka dari penjajahan.

فَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَكُنْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ …

"Kalaulah bukan karena karunia Allah kepada kalian dan rahmat-Nya, sungguh kalian benar-benar termasuk orang yang merugi." (Q.S. Al-Baqarah : 

Oleh karena itu sepantasnya kita bersyukur kepada Allah dengan mengakui dan meyakini bahwa kemerdekaan adalah kenikmatan terbesar yang telah di berikan oleh  Allah kepada bangsa ini.

*Hadirin Rohimakumullah,*

Nah bagaimana mensyukuri kemerdekaan  yang sesuai dengan Al-Quran, berdasarkan surat al-Hajj ayat 41

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.
 
Yang di maksud dengan di teguhkan kedudukan mereka di muka  bumi adalah mendapatkan pertolongan dari Allah sehingga bisa mengalahkan musuh-musuhnya (Tafsier Jalalain). Maka bentuk bersyukurnya kepada Allah berdasarkan ayat tersebut ada empat

*Hadirin Rohimakumullah,*

Marilah kita bahas ke empat cara bersyukur tersebut

Yang pertama mensyukuri kemerdekaan itu dengan اقاموا الصلاة yaitu mendirikan Shalat.

Di era penjajahan tentu saja melaksanakan ibadah khususnya shalat yang lima waktu akan terasa berat, tidak nyaman, tidak tenang sulit sekali untuk bisa khusu dan dilaksanakan di awal waktu karena dikejar-kejar rasa takut, akibat dari intimidasi dari kaum penjajah apalagi ketika situasi  perang berkecamuk. Oleh karena itu ketika kita sekarang hidup di alam merdeka sangat pantas mensyukuri kemerdekaan dengan memperhatikan shalat lima waktu agar didirikan tepat waktu secara khusu. Bahkan lebih bagus lagi, tambah dengan mendirikan macam-macam shalat sunat sebagaimana yang telah  du contohkan oleh Rasululllah SAW.

*Hadirin Rahimakumullah,*

Sudah selayaknya, pengakuan akan nikmat Allah serta kebaikan-Nya seperti diberikan kemerdekaan dari penjajahan, diwujudkan dengan melaksanakan shalat karena dalam shalat terdapat rukuk, sujud, dan ketundukan hati. Setelah kita melakukan shalat berarti kita sudah bersyukur kepada Allah bahwa kita merasa diawasi oleh-Nya. Jadi, kalau kita tidak melaksanakan shalat maka kita tidak bersyukur kepada Allah dan telah melakukan kekufuran kepada sang pemberi nikmat.
Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah. Beliau melaksanakan shalat malam tanpa henti, bahkan seakan-akan memaksa diri hingga kakinya pun bengkak-bengkak. Lalu suatu saat Aisyah bertanya kepada beliau, "Kenapa engkau berbuat seperti ini? Bukankah Allah telah menjamin untuk mengampuni segala dosamu?" Rasulullah menjawab, "Tidakkah (jika demikian) aku menjadi hamba Allah yang bersyukur". 

Sebagaimana di terangkan dalam hadits berikut :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا صَلَّى قَامَ حَتَّى تَفَطَّرَ رِجْلاَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَصْنَعُ هَذَا وَقَدْ غُفِرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « يَا عَائِشَةُ أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ». رواه مسلم.

Aisyah r.a. berkata, Rasulullah saw. ketika melaksanakan shalat maka beliau berdiri hingga kedua kakinya bengkak. Aisyah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, Apa yang engkau perbuat, sedangkan dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni.” Lalu beliau menjawab, “Wahai Aisyah, bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”. (HR. Muslim).

Dalam hadits lain pun di terangkan :

عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى حَتَّى انْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ فَقِيلَ لَهُ أَتَكَلَّفُ هَذَا وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَقَالَ « أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا ». رواه مسلم.

Dari Mughirah bin Syu’bah, bahwasannya Nabi saw. melaksanakan shalat hingga kedua mata kakinya bengkak. Lalu dikatakan kepadanya, “Mengapa engkau membebani dirimu, padahal Allah telah mengampuni dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?.” (HR. Muslim).

*Hadirin Rahimakumullah,*

Yang kedua mensyukuri kemerdekaan itu dengan  اتوا الزكاة yaitu mengeluarkan zakat.

Kalau mendirikan shalat bersyukur secara spiritual langsung kepada Allah, sedangkah mengeluarkan zakat bersyukur secara sosial, berbagi rezeki dengan sesama manusia yang keadaan ekonominya lemah seperti fakir miskin secara khusus, karena di alam kemerdekaan ini jangan sampai ada kesenjangan ekonomi. Maka yang lemah secara ekonomi harus di bantu oleh yang kuat secara ekonomi. Maka dalam ajaran islam solusi kesenjangan ekonomi itu ada zakat. 

Yang ketiga mensyukuri kemerdekaan itu dengan امروا بالمعروف  yaitu memerintah kepada yang makruf (kebaikan)

Sebagai upaya tanggung jawab moral maka di alam kemerdekaan ini harus mampu menciptakan kesholehan sosial, yaitu mengajak orang lain seperti batur sakasur, batur sadapur, batur sasumur dan batur salembur secara luas untuk bersama-sama melaksanakan kebaikan ( معروف ) tanpa ada kekangan dan intimidasi dari pihak lain. Untuk mewujudkan kesholehan sosial itu maka harus di suburkan yang namanya Amar ma'ruf.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَآ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَٰلِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ ٱلْمُسْلِمِين
َ 
" Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (Q.S Fushshilat:33)

Yang ke empat mensyukuri kemerdekaan berdasarkan surat al hajj ayat 41 adalah نهوا عن المنكر yaitu mencegah dari kemunkaran

Di alam kemerdekaan ini yang sudah bebas dari penjajahan maka praktek-praktek kemungkaran, kejahatan - kejahatan pokok nya yang berbau- bau perbuatan dosa yang di larang oleh Allah SWT harus di basmi atau harus di tiadakan dengan cara saling mengingatkan bahwa itu perbuatan dosa yang dilarangan oleh islam, yang harus di jauhi menurut Al Quran dan al Hadits yang istilah populernya mencegah kemungkaran itu Nahy munkar. Perbuatan ini juga sebagai bukti tanggung jawab moral jangan sampai di alam kemerdekaan ini membiarkan kemungkaran merajalela yang mengakibatkan kemerdekaan tidak berkah naudzu billahi min dzalik

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajajar cara bijak dalam mengingkari kemungkaran.

عَنْ أَبِي سَعِيْدٍ الخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُوْلُ: «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

*Hadirin Rohimakumullah,*

Demikian yang bisa saya sampaikan dalam khutbah  ini. Semoga Allah memberi taufik dan hidayah kepada kita semua. Aamiin

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ السَمِيْعُ العَلِيْمُ

| BACA JUGA YANG LAINNYA |

Post Bottom Ad

Pages